SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN
PERAN EHR (ELECTRONIC HEALTH RECORD)
DALAM DOKUMENTASI KEPERAWATAN
A. Sistem
Informasi Keperawatan
Pengetahuan
untuk mendukung pasien dan perawat dalam pengambilan keputusan diseluruh peran
perawat dan pengaturan. Dengan menggunakan struktur informasi, proses, dan
teknologi (Thompson, 2002). Sistem informasi keperawatan juga membantu sistem
klinik dalam mengelola data keperawatan dan juga kegiatannya. Manfaat sistem
informasi di lingkungan rumah sakit apabila dikelola dengan baik, yaitu
menghemat waktu dalam melakukan pendokumentasian, data yang tercatat akan lebih
aman dan resiko untuk hilang jauh lebih sedikit daripada manual sehingga dapat
meningkatkan efektifitas dan efesiensi dari staf perawat.
Sistem
Informasi dalam kesehatan sudah berkembang sangat pesat. Sistem informasi
memeberikan kemudahan serta efisiensi waktu yang sangat efektif dan mengurangi
penggunaan paper based yang mengurangi pemakaian kertas secara berlebihan.
Selain itu, sistem informasi memberikan dampak yang begitu besar dalam
pendokumentasi keperawatan. sistem informasi memberikan kemudahn perawat dalam
mendokumentasikan asuhan keperawatan
Sistem
informasi rumah sakit memiliki peranan penting dalam pelayanan klinis dan
administratif. Pengelolaan informasi di rumah sakit sudah mulai menggunakan
sistem berbasis elektronik (SIMRS), terutama dalam mendukung pengambilan
keputusan
Sistem
informasi rumah sakit (SIMRS) dapat dicirikan dengan fungsinya melalui
informasi dan jenis layanan yang ditawarkan. Untuk mendukung perawatan pasien
dan administrasinya, SIMRS mendukung penyediaan informasi, terutama tentang
pasien, dalam cara yang benar, relevan dan terbarukan, mudah diakses oleh orang
yang tepat pada tempat/lokasi yang berbeda dan dalam format yang dapat
digunakan. Transaksi data pelayanan dikumpulkan, disimpan, diproses, dan
didokumentasikan untuk menghasilkan informasi tentang kualitas perawatan pasien
dan tentang kinerja rumah sakit serta biaya. Ini mengisyaratkan bahwa sistem
informasi rumah sakit harus mampumengkomunikasikan data berkualitas tinggi antara
berbagai unit di rumah sakit.
Selain
komunikasi internal, tujuan penting lain dari SIMRS adalah pertukaran data
elektronik antar penyedia layanan kesehatan (dokter praktik, fasilitas primer
dan rumah sakit) sehingga dapat menjamin ketersediaan informasi pasien secara
komprehensif dan efisiensi pelayanan. Informasi pasien yang lengkap dapat
membantu proses pelayanan pasien secara lebih baik. SIMRS juga telah banyak
dikembangkan untuk berbagai fungsi klinis seperti rekam medis elektronik
(EHR),computerized physician order entry(CPOE) dan clinical decision support
systems (CDSS) guna mendukung kualitas pelayanan medisdan meningkatkan keamanan
pasien. Lebih dari 50% kesalahan pengobatan dapat dicegah melalui penggunaan
SIMRS dengan fungsi CPOE dan CDSS.
B. Dokumentasi
Pengertian
dokumentasi keperawatan menurut Kozier (2004) adalah laporan baik komunikasi
secara lisan, tertulis maupun melalui komputer untuk menyampaikan informasi
kepada orang lain .
Merupakan
informasi tertulis tentang status dan perkembangan kondisi klien serta semua
kegiatan asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat
(Fisbach,1991)Dokumentasi asuhan dalam pelayanan keperawatan adalah bagian dari
kegiatan yang harus dikerjakan oleh
perawat setelah memberi asuhan kepada
pasen. Dokumentasi merupakan suatu
informasi lengkap meliputi
status kesehatan pasen, kebutuhan
pasen, kegiatan asuhan
keperawatan/kebidanan serta respons pasen
terhadap asuhan yang diterimanya.
Dengan
demikian dokumentasi keperawatan/ kebidanan mempunyai porsi yang besar dari
catatan klinis pasen yang
menginformasikan faktor tertentu
atau situasi yang terjadi selama asuhan
dilaksanakan. Disamping itu catatan juga
dapat sebagai wahana komunikasi dan koordinasi
antar profesi (Interdisipliner) yang dapat dipergunakan untuk mengungkap
suatu fakta aktual untuk dipertanggung jawabkan.
Catatan pasien merupakan suatu dokumen yang legal, dari status
sehat sakit pasen pada saat lampau, sekarang, dalam bentuk tulisan, yang
menggambarkan asuhan keperawatan/
kebidanan yang diberikan. Umumnya catatan pasien berisi imformasi yang mengidentifikasi masalah, diagnosa
keperawatan dan medik, respons pasen terhadap asuhan kerawatan/kebidanan yang diberikan dan respons terhadap pengobatan serta
berisi beberapa rencana untuk
intervensi lebih lanjutan.
Keberadaan
dokumentasi baik berbentuk catatan maupun laporan akan sangat membantu
komunikasi antara sesama perawat/ bidan maupun disiplin ilmu lain dalam rencana pengobatan.
Perawat
dan praktik keperawatan tergambar setiap hari bagi yang membaca catatan pasien.
Data keperawatan yang terdapat dalam catatan tersebut merefleksikan standar asuhan keperawatan, seperti perawatan
khusus yang diberikan pada pasien tertentu. Anggota tim kesehatan lain membuat
keputusan perawatan berdasarkan catatan keperawatan. saat ini sejumlah lembaga
membuat kebijakan yang legal dan berkualitas serta keputusan administratif dan
penggantian biaya, seperti melakukan tindakan lain termasuk perawatan aktual
pada pasien berdasarkan catatan medis.
Perawat
mempunyai banyak tanggung jawab yang akhirnya diarahkan pada perawatan pasien.
Oleh karena itu, tugas dokumentasi yang aktual terkadang harus dipindahkan ke
waktu lain di akhir shif. Namun, definisi kata dokumentasi memberi informasi
tentang peran penting dokumentasi tersebut. Webster’s New World Dictionary
mendefinisikan dokumentasi sebagai penyedia bukti pencatatan dan pengumpulan,
ringkasan, dan pengkodean informasi yang tercetak atau tertulis untuk referensi
di masa mendatang. Definiai sederhana ini menyesuaikan berbagai peran bahwa
dokumenyasi atau proses pendokumentasian dan pendemonstrasian pemberian
perawatan pasien penting dalam perawatan kesehatan.
Pendokumentasian
catatan kesehatan klien merupakan salah satu aspek terpenting dari pemberian
perawatan kesehatan di area pelayanan kesehatan. Salah satu area pelayanan
kesehatan yang memerlukan pendokumentasian yang akurat adalah pelayanan
keperawatan. Dokumentasi keperawatan adalah bukti bahwa tanggung jawab hukum
& etik perawat terhadap klien sudah dipenuhi dan bahwa klien telah menerima
asuhan keperawatan yang bermutu.
Perkembangan teknologi informasi dan teknologi
kesehatan serta tingginya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
lebih berkualitas menuntut adanya pemanfaatan terhadap kemajuan teknologi antara
lain dikembangkannya sistem pendokumentasian
kesehatan berbasis teknologi informasi.
C. APA
ITU EHR (Electronic Health Record) ????
Electronic
Health Record system (EHRs) adalah catatan elektronik longitudinal yang berisi
informasi kesehatan klien berupa data demografi klien, catatan kemajuan
perawatan, obat, tanda vital, riwayat medis masa lalu, imunisasi, data
laboratorium, dan laporan radiologi (NCRR, 2006). EHRs memiliki kemampuan untuk
menampilkan informasi kesehatan klien secara lengkap dan akurat.
Salah
satu sistem rekam kesehatan elektronik yang merupakan kegiatan
mengkomputerisasi isi rekam medis kesehatan dan proses yang berhubungan dengannya. EHR (Electronic Health
Record) adalah rekaman atau catatan
elektronik informasi terkait kesehatan (healthrecord-Information) seseorang
yang mengikuti standar interoperabilitas nasional dan dapat dibuat,
dikumpulkan, dikelola, digunakan, dan dirujuk oleh dokter atau tenaga kesehatan
yang berhak (authorized) pada lebih dari satu organisasi pelayanan kesehatan
(National Alliance for health Information Technology, 2008).
Menurut
Fuad (2008), EHR (Electronic Health Record) juga berarti sebagai rekaman atau informasi
catatan elektronik terkait kesehatan (health-related-information) yang
mengikuti standar interoperabilitas nasional dan dapat ditarik dari berbagai
sumber, namun dikelola, dibagi, serta dikendalikan oleh individu.
Penyelenggaraan sistem electronic health record (EHR) di rumah sakit sejalan
dengan adanya tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang semakin
berkualitas karena salah satu keuntungan yang dapat diperoleh dengan sistem EHR
(Electronic Health Record), yaitu mencegah kejadian medical error melalui tiga
mekanisme yaitu
a) pencegahan
adverse event,
b) memberikan
respon cepat segera setelah terjadinya adverse event, dan
c) melacak
serta menyediakan umpan balik mengenai adverse event
Keperawatan
sebagai bagian dari pelayanan kesehatan juga dituntut untuk tanggap terhadap
kemajuan teknologi informasi. Penerapan teknologi informasi electronic health record system (EHRs) ke
dalam dunia keperawatan di luar negeri sangat berkembang pesat dibandingkan
dengan Indonesia. Sistem pendokumentasian asuhan keperawatan di Indonesia saat
ini masih bervariasi. Sebagian besar rumah sakit masih menggunakan sistem
pendokumentasian dengan melakukan pencatatan pada format kertas yang tersedia
(paper based), sementara baru beberapa rumah sakit yang sudah mulai
mengembangkan sistem pendokumentasian keperawatan dengan dukungan teknologi
informasi berbasis sistem komputer (electronic based).
Dengan
adanya EHR (Electronic Health Record)
sebagai pengganti paper based lebih memudahkan perawat dalam
pendokumentasian dan dapat menghemat waktu perawat karena perawat dapat secara
menyeluruh memberikan asuhan keperawatan tanpa terganggu dengan dokumentasi.
Menurut
AHIMA dalam Journal of AhIMA 83 No.7 (2012), yaitu Data Quality Management
Model (Updated), semakin lama sistem electronic health record (EHR) menjadi
lebih banyak diterapkan di semua pengaturan kesehatan. Sistem ini telah
dikembangkan dan digunakan dengan berbagai metode dokumentasi sebagai salah
satu catatan elektronik. Oleh karena itu, dibutuhan pengelolaan kualitas data,
pelayanan, manajemen, dan pengukuran yang lebih ketat/besar dari sebelumnya.
Selain itu, hal ini dapat menimbulkan perhatian untuk menjamin integritas data
dalam pelaksanaan kegiatan, metode pengumpulan, atau sistem yang digunakan
untuk merekam, menyimpan, dan mengirimkan data pada pelayanan kesehatan.
electronic health record (EHR) terdiri dari data baik terstruktur dan tidak
terstruktur. Hal ini mengakibatkan berbagai peluang terjadinya kesalahan.
Karena penggunaannya yang sangat penting, timbul peningkatan tekanan entitas
kesehatan dan penyedia pelayanan untuk memberikan data kesehatan yang
berkualitas. Selain itu, data harus dipercaya untuk mendukung keputusan klinis,
keuangan, dan administrasi. Sebab EHR dan seberapa baik kualitas data kesehatan
sangat penting untuk memberikan kualitas pelayanan yang baik.
Dalam
EHR, data dibutuhkan untuk direkam dan disimpan dalam standardized form. Standar yang sering disebutkan yang tepat
untuk coding nursing secara spesifik
dalam EHR menggunakan The North American Nursing Diagnosis Association
(NANDA), Nursing Interventions Classification (NIC), dan Nursing Outcomes
Classification (NOC). Beberapa perawat mengusulkan standarisasi bahasa, yang
dikenal dengan istilah standardized languanges (SLs). Hal ini dimaksudkan untuk
meningkatkan kecakapan perawat dalam membuat suatu keputusan/kebijakan,
meningkatkan komunikasi antara perawat dengan anggota multidisiplin tim
kesehatan, memfasilitasi pencapaian organisasi, sistemik, dan tujuan pemerintah
dalam cost efficiency dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan (Petrovskaya, et
al, 2009). Walau metode dokumentasi dalam health record untuk bidang
keperawatan masih berkembang saat ini, elemen data diperkirakan akan
didokumentasikan dengan Standardized Languanges (SLs). Penggunaan SLs seperti
NANDA, NIC, dan NOC (disebut NNN) di prediksi meningkatkan, memfasilitasi
komunikasi (Kautz D, Kuiper R, Pesut DJ, Williams RL, Thoroddsen A, Saranto K,
Ehrenberg A, Seremus W dalam Smith&Craft-Rosenberg, 2010).
D. Tantangan EHR (Electronic Health Record)
Tantangan
utama sistem informasi di rumah sakit khususnya dalam hal pengembangan rekam
medis terkomputerisasi selain aspek finansial adalah aspek legal, keselamatan
pasien (patient safety), dan security. Masih banyak pihak yang mencurigai bahwa
rekam medis elektronik tidak memiliki payung hukum yang jelas. Hal ini juga
terkait dengan upaya untuk menjamin agar data yang tersimpan dapat melindungi
aspek privacy, confidentiality, maupun safetyi (keselamatan) informasi secara
umum. Kini, teknologi informasi memberikan harapan baru, yaitu teknologi
enkripsi maupun berbagai penanda biometrik (sidik jari maupun pemindai retina)
yang justru lebih protektif daripada tandatangan biasa. Menurut Sabarguna
(2010) Ada 4 hal yang menjadi keuntungan dari rekam medis terkomputerisasi
yaitu:
a. Fasilitas
yang lebih lengkap,
b. Dapat
bergerak pada sistem inforamsi lain,
c. Sebagai
alat bantu yang lengkap,
d. Sebagai
bagian dari pekerjaan yang berlanjut secara otomatis
Electronic
Health Record (EHR) merupakan kegiatan mengkomputerisasikan isi rekam kesehatan
dan proses yang berhubungan dengannya. EHR (Electronic Health Record) bukanlah sistem informasi yang dapat dibeli
dan diinstall seperti paket word-procesing atau sistem informasi pembayaran dan
laboratorium yang secara langsung dapat dihubungkan dengan sistem informasi
lain dan alat yang sesuai dalam lingkungan tertentu. EHR merupakan sistem
informasi yang memiliki framework lebih luas dan memenuhi satu set fungsi.
Menurut Amatayakul (2004), electronic health record (EHR) harus memenuhi
kriteria sebagai berikut:
a. Mengintegrasikan
data dari berbagai sumber (Integrated data from multiple source);
b. Mengumpulkan
data pada titik pelayanan (Capture data at the point of care);
c. Mendukung
pemberi pelayanan dalam pengambilan keputusan (Support caregiver decision making).
Hatta
(2011) menjelaskan bahwa electronic health record (EHR) terdapat dalam sistem
yang secara khusus dirancang untuk mendukung pegguna dengan berbagai kemudahan
fasilitas untuk kelengkapan dan keakuratan data, memberi tanda waspada,
peringatan, memiliki sistem untuk mendukung keputusan klinik dan menghubungkan
data dengan pengetahuan medis serta alat bantu lainnya.Berdasarkan definisi
International Organization for Standarisasi (ISO) dalam Hayrinen, dkk (2008),
sistem EHR (electronic health record) berarti repositori data pasien dalam
bentuk digital, disimpan dan dipertukarkan dengan aman, dan dapat diakses oleh
beberapa pengguna yang berwenang. EHR (electronic health record) berisi
informasi retrospektif (masa lalu), konkuren (saat ini), dan informasi
prospektif (kemungkinan dimasa depan), serta tujuan utamanya adalah untuk
selalu mendukung keberlanjutan, efisiensi dan kualitas pelayanan kesehatan yang
terintegrasi. ISO juga memberikan sejumlah istilah lain yang umum digunakan
untuk menggambarkan berbagai jenis sistem EHR (electronic health record).
Tantangan
EHR (electronic health record), Penerapan sistem informasi di fasilitas
kesehatan klinik merubah pola kerja perawat di klinik. (Lee&Mccelmurry,
2010& Sensmeier, 2009). Teknologi informasi tidak hanya merubah praktik dan
proses keperawatan tetapi juga point of care pada pelayanan kesehatan sehingga
beberapa staf enggan melakukan perubahan ( Courtney, et al, 2005).
Pada
tahun 2005, dilaporkan tidak ada hasil statistik yang signifikan terhadap
perubahan waktu dokumentasi dengan komputerisasi. Pada tahun yang sama,
dilakukan suatu studi sistematis dari tahun 1989 sampai 2003. Dari 13 hasil, 5 dilaporkan meningkatkan waktu
dokumentasi dengan implementasi teknologi komputer. Bagaimanapun, 8 dilaporkan
mampu menurunkan waktu dokumentasi. Dampak dari komputerisasi pada perilaku
perawat adalah suatu hal yang masih berkembang. The Straggers dan Park Nurse
Computer Interaction Framework menyediakan struktur untuk mempelajari perubahan
pengalaman perawat saat berinteraksi dengan komputer. Pokok/inti framework adalah keefektifan proses informasi
ditentukan oleh kualitas outcome, termasuk kemajuan perawatan
(Banner&Olney, 2009) .
Tantangan
pelayanan kesehatan dalam konversi paper based menuju EHR (electronic health record) yang besar antara lain (Wolf, et al, 2006):
a. Biaya
yang meningkat/besar
b. Perubahan
teknologi yang tiba-tiba/cepat
c. Variasi
kemampuan komputer dari sumber daya manusia
d. Ketidaktertarikan/keengganan
beberapa staf klinik
e. Persentase
yang besar dari staf medis yang bukan pegawai tetap RS
Rancangan
EHR (electronic health record) tersebut
tentunya harus dapat mengatasi hal-hal yang sering terjadi pada rekam medis
berbasis kertas agar menunjukkan suatu keuntungan yang besar, antara lain:
a. Aksesibilitas
informasi kesehatan pasien belum real time
b. Kelengkapan,
keakuratan dan keamanan informasi kesehatan pasien masih rendah
c. Pemanfaatan
data pasien dalam pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
di sarana pelayanan kesehatan oleh para pengelola sarana pelayanan kesehatan
belum optimal
d. Data
pasien belum dioptimalkan oleh para tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan
secara berkesinambungan dalam rangka pelayanan yang efektif dan efisien.
E. Keuntungan
EHR (Electronic Health Record)
Penelitian
yang dilakukan oleh Banner&Olney (2009) menyebutkan dampak dari EHR terhadap perilaku perawat antara lain perawat dapat
menghabiskan waktu lebih banyak dengan perawatan pasien langsung, waktu untuk
tugas administratif menurun dan hal ini memungkinkan pengembangan dokumentasi
pasien bahkan lebih lengkap
kedepan.
Penyelenggaraan
EHR (electronic health record) di rumah
sakit sejalan dengan adanya tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang
semakin berkualitas. Menurut Wolf, et al, 2006, keuntungan peralihan dari paper-based pada EHR (electronic health
record) adalah menjamin kualitas perawatan (quality of care) dan memicu
produktivitas, antara lain:
a. Mereduksi
duplikasi pengujian
b. Mereduksi
kesalahan medis (medication errors)
c. Mencegah
efek kerugian dari konflik materi pengobatan/perawatan
d. Mengurangi
waktu yang dihabiskan oleh pasien dan tenaga medis dalam menunggu order medis,
hasil test, diagnosa yang akurat, intervensi medis
e. Mengeliminasi
pengulangan visit yang tidak perlu
f. Mereduksi
kerja dengan kertas
g. Penghematan
biaya dari penggunaan kertas untuk pencatatan,
h. Tidak
memerlukan gudang yang besar dalam
penyimpanan arsip
i.
Penyimpanan data (record) pasien menjadi
lebih lama
j.
EHR (electronic health record) yang dirancang dengan baik akan mendukung
otonomi yang dapat dipertanggung jawabkan
k. Meningkatkan
produktivitas bekerja
l.
Mengurangi kesalahan dalam
menginterprestasikan pencatatan
m. Standarisasi,
terdapat pelaporan data klinik yang standar yang mudah dan cepat diketahui
n. Meningkatkan
kualitas informasi klinik dan sekaligus meningkatkan waktu perawat berfokus
pada pemberian asuhan
o. Accessibility,
legibility, artinya mudah dalam membaca dan mendapat informasi klinik tentang
semua pasien dan suatu lokasi
E. Strategi
EHR (Electronic Health Record)
Strategi
Pelaksanaan EHR (electronic health record), memulai EHR (electronic health
record membutuhkan pengukuran kesiapan organisasi yang berhubungan dengan
tujuan, penkajian dasar dan fakta sebelum memulai. Merencanakan dengan
hati-hati transisi dari paper-based ke EHR (electronic health record) diperlukan untuk meminimalisir gangguan. Selain itu, identifikasi peran dari setiap
departemen dalam proses dan dampak jika teknologi diterapkan. Selanjutnya,
desain, pengujian, penginstallan aplikasi, lalu meminta feedback dari pengguna
layanan (users). Berikan waktu yang adekuat untuk pengguna untuk menghasilkan
suatu uji quality assurance yang baik,
ajak untuk dapat familiar dengan sistem yang akan dipakai kedepan, sampaikan
fungsinya, berbagi pengalaman mereka
dengan semua departemen untuk mengantisipasi masalah sebelum terjadi
(Carr, 2004).
Kesimpulan
Implementasi EHR (Electronic Health Record) merupakan suatu tuntutan dan kebutuhan bagi
setiap sarana pelayanan kesehatan yang dipicu oleh usaha peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Untuk
itu diperlukan pemahaman bersama dalam strategi implementasi EHR (Electronic
Health Record) .
Rekomendasi
Kunci sukses implementasi EHR (Electronic Health Record) di pelayanan kesehatan
Indonesia tidak terlepas dari peran serta pemerintah dalam menyiapkan kebijakan
terkait dengan implementasi EHR (Electronic Health Record) antara lain:
Standarisasi model EHR(Electronic Health Record) yang sesuai di sarana
pelayanan kesehatan Indonesia serta tersedianya
Peraturan Pemerintah yang terkait implementasi EHR (electronic health
record).
Daftar Pustaka
T.M.
Marrelli.2007.Buku Saku Dokumentasi
Keperawatan.Jakarta: EGC
Kozier.2004.
Buku Ajar Fundamental Keperawatan.Jakarta:EGC
Evy
Hariana, dkk.Penggunaan Sistem Informasi
Manajemen Rumah Sakit (Simrs) Di Diy . Diunduh pada tanggal 15 november
2017 pukul 06.10 WIB
Dedy
Setyawan. Analisis Implementasi
Pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (Simrs) Pada Rsud Kardinah Tegal. Diunduh pada
tanggal 15 november 2017 pukul 06.13 WIB
Nuryati1,
Nurzara anggar Widayanti. Jurnal
Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, ISSN:2337-585X, Vol.3, No.1, Maret
2015. Diunduh pada tanggal 17 november 2017 pukul 04.31 WIB
Noraliyatun
Jannah. Aplikasi Electronic Health
Records (EHR): Prospek dan Tantangan dalam Keperawatan. Diunduh pada tanggal 17
november 2017 pukul 04.34 WIB
O.
Diana Suek. Pengembangan Catatan
Kesehatan Elektronik di Ruang Perawatan Anak. Diunduh pada tanggal 19
november 2017 pukul 12.54 WIB






Komentar
Posting Komentar